Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, June 4, 2014

Berdansa Pada Malam

Akh, aku terlalu yakin dengan keputusan ini. Andaikan kau tahu rasa yang ada dalam sukma, kau pasti menatapku dengan tawa yang tak bisa kau tahan. Tertawalah, aku sudah siap diolok.
Tapi, dengarlah aku malu padamu.

Wednesday, March 12, 2014

Gadis Berambut Ikal



Andaikan kau tahu perasaanku, mungkin kau tak akan menggangguku seperti ini.  Setiap kata yang kau ucapkan menggores luka di lubuk hatiku. Pelan tapi pasti itu akan menjadi borok, bernanah yang tak pernah kau lihat, lebih tepatnya yang tak pernah kau perdulikan.

Bagaimana mungkin kau perduli luka hatiku, sebab yang kau tahu hanya bahwa aku seorang pria bisu, berpakaian compang camping seperti ini, laksana hidup sebatang kara di tengah keluarga dan kesepian diantara kerumunan. Meskipun aku tinggal bersama dengan ibu, tetapi ibu telah menganggapku tidak lebih dari seorang budak, penimbah air setiap pagi sebelum ayam berkokok dan kumbang-kumbang telah penuh dengan air sebelum burung-burung berkicau, hendak berkelana bersama dengan sejuta perasaan kesalku.

Wednesday, July 3, 2013

Kau Cinta Aku?



Menangis dalam tawa. Mungkin itu istilah yang tepat untuk menggambarkan kisah hidupnya. Dia mencintai seorang pria yang tampan, Manis dan senyum yang biasa tapi membuat jantung berdetak bertubi-tubi. Kulitnya hitam manis, ia sangat mirip dengan Hengky Kurniawan. Pujian itu muncul lewat senyumnya setiap kali bertemu dengan Joan. “Dia juga mencintaiku. Dia rela mendayuh sepedanya untuk sampai di kostku. Dan menghabiskan waktunya untuk bercerita denganku”. Itulah alasan Dina tetap menyimpan cintanya buat Joan. “Dia sudah sesuai dengan kriteriaku. Dia pujaanku. Mendengar namanya saja jantungku berdetak lebih kencang. Aku yakin sekali dia tepat buatku, aku harus perjuangkan”. 

Kontemplasi Berujung Tawa


 
Salahkah aku terus menyembunyikan ini? Tidak ada yang tahu, sekalipun mereka tahu manusia tidak ada yang luput dari dosa, tetapi mereka tidak tahu di kedalaman hati sesamanya apa yang tengah terbalut tawa.

Mereka tahu bahwa masalah yang ada sekarang adalah kesalahan dua orang, kebetulan saya memergoki mereka dan kemudian menyingkapkannya. Mungkin setan yang memberi dorongan supaya aku menyaksikan kebobrokan mereka. Atau Tuhan yang mengijinkan aku melihat? Sementara aku, bukanlah aku sendiri yang menginginkan hal itu, melihat suatu bukti yaitu kesengajaan yang mereka ungkapkan selama ini adalah kekeliruan, kekhilafan dan sejenisnya tapi sekarang terbukti bahwa selama ini kami salah dengan mudahnya percaya kata mereka, dan itu bukanlah kekhilafan sehingga kami perlu bilang igtifar, tapi sekarang itu adalah kesengajaan di kamar yang sunyi, berduaan, pria dan wanita dan memperlihatkan aksi yang tak senonoh dan yang aku bilang tadi aku tidak sengaja melihatnya dan sekarang setelah kami tahu kami perlu bilang kurang ajar.

SEBENTAR



 
Betapa bodohnya dirimu jika kamu hanya mau didengar, tanpa mendengar orang lain. Tapi perangaimu telalu sulit untuk dibantah. Memaksa orang untuk mendengar semua isi otak yang ingin kau muntahkan.

Kau serupa orang bebal yang konflik dengan tetangga karena kau menikahi istri kawannya. Tapi siapakah yang bisa kau dengarkan saat ini?

Akh, aku terlalu berani untuk memaksamu diam atau aku ingin muntah sepertimu. Diamkan segala nyalimu yang hampir memberontak setiap pagi untuk bicara. Bicara banyak, itu yang orang-orang bilang padaku tentangmu.
“Sebentar.” Itu yang selalu menjadi dalihmu, tangan yang kau angkat, kepala yang kau pegang, lalu menghindar sebentar, kembali lagi dan bicara. Kau terus menginterupsi setiap bibir yang bergerak untuk bicara.