Usiaku sudah seperempat abad. Usia yang cukup matang, pikiran penuh dengan problematika, tentang pekerjaan, keluarga, teman, calon pengganti pacar, menulis, berkarya, kursus, menggemukkan badan, mengatasi kemarahn, lebih dewasa dan disipilin. Itu semua ada dalam pikiranku. Pikiran bergulat dengan perasaan, akankah semua asa akan jadi nyata. Tapi ada satu hal yang tidak pernah terlintas dalam bayanganku. Memikirkannyapun tidak pernah apalagi berharap. Itu tentang ayah.
Ayahku memang bukan seorang ayah ideal, aku juga tidak tahu seperti apa seorang ayah ideal, tapi ia cukup menjadi idola bagiku. Ayah cukup kubanggakan. Ayah di kagumi bukan hanya dalam keluarga. Mungkin bukan hanya kagum tapi juga segan, bahkan anak-anak pamanku segan terhadap ayah. Sekali lagi aku cukup membanggakannya terlepas dari semua yang akan dilakukannya.
Thursday, June 20, 2013
Galau? Oh No!!
Belum banyak orang yang tahu tentang karya tulisku, karena tidak terlalu banyak media yang saya pakai untuk mem-posting-nya. Beberapa lagu yang aku tulis hanya ngendon di kamar, terperangkap diantara tumpukan buku-buku bacaanku, hingga menjadi usang. Aku tidak punya banyak uang untuk mengirimkan tulisanku ke media cetak supaya dibaca banyak orang. Aku seorang mahasiswa, yang hanya membaca setiap puisi tulisannya sendiri yang nyaris terlupakan, memahaminya dengan bangganya di kamar, berharap kelak terbaca oleh banyak orang.
Aku mengagumi Tuhan pencipta manusia, Ia memberikan otak kepada yang mampu berimajinasi, menyatukan jutaan kata menjadi sebuah kalimat yang indah dan bermakna sehingga membuat pembacanya terdecak kagum, heran, haru, tersenyum, tergantung apa arti kalimat-kalimat yang tersusun menjadi sebuah cerita yang bisa dimengerti oleh semua orang, entah itu cerita menarik, sedih, tragis, atau yang penuh cinta yang membuat orang tersenyum manis meski sedang galau. Oh galau lagi.
Personality Plus
Sebagian besar manusia di dunia ini, may be berpikir/berkata: saat paling membahagiakan, menyenangkan, bersukacita apabila semua yang kita harapkan sesuai dengan kenyataannya. Tidak ada rintangan, tidak ada duka, saat ulang tahun dirayakan bersama pacar di tempat remang2 dengan nuansa romantis. Ketika lagi jatuh cinta dan dicintai oleh orang yang sesuai dengan kriteria, benarkah? Setuju?
Percaya atau tidak, bagiku hanya 10% dari hal2 di atas dapat membahagiakan kita. Saya percaya, kita punya 7-an yang berbeda, prioritas yang bervariasi . Why? Simak cerita saya berikut :
Seminggu yang lalu (tgl 25 – 30 Nov) saya membaca sebuah buku yang mungkin tak asing lagi “PERSONALITY PLUS”, buku ini ditulis oleh Lourence Litteuer. Guys, buku ini berisi pembahasan yang sangat menarik dan patut dibaca bagi setiap insan yang sedang berpetualang ingin mengenal karakter manusia. Pembahasan yang sangat baik, jelas dan tidak membosankan, khusus menjelaskan 4 karakter/temperamen manusia.
Kedaluarsa? Gawat!
Ketika berbelanja di supermarket, kios, pasar atau mall, saya sering memperhatikan beberapa bagian dari barang yang akan saya miliki, tentunya Anda juga memperhatikannya. Mulai dari kualitas (pakaian/sepatu), harga (semua jenis barang), komposisi dan khasiatnya jika itu obat dan makanan. Kenapa saya selalu memperhatikan ini? Karena saat sekarang banyak barang yang harganya mahal tapi kualitasnya kurang bagus, dua kali pakai (pakaian) sudah rusak. Atau ada banyak makanan yang menggunakan pengawet yang secara medis akan memicu kanker. Berhati-hatilah dalam berbelanja.
Tetapi yang menyita perhatian saya selama berbelanja makanan selain diatas adalah expired/kedaluarsa. Beberapa kali saya menemukan barang yang sudah expired tapi masih dipajang ditoko-toko. Seperti beberapa bulan lalu, saya membeli kopi di sebuah supermarket yang terkenal di kota saya bahkan ada sekitar 10 cabang yang dimiliki di 10 tempat yang berbeda.
Kebebasan Tanpa Batas (?)
Beberapa minggu ini saya menyaksikan iklan salah satu provider, yang menurut saya menarik. Provider tersebut mengeluarkan satu pernyataan menggelitik sedikit apatis“Katanya kebebasan itu nyata” yang didasari atas satu pertanyaan bahwa kenapa kebebasan itu dibatasi kalau nyata. Pernyataan tersebut kira-kira dibuat karena melihat kenyataan bahwa orang yang diberi kebebasan namun tidak benar-benar ‘dibebaskan’. Kebebasan seharusnya tanpa syarat dan tanpa batas, begitulah iklan tersebut memprovokasi. Pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa kebebasan itu omong kosong. Kenapa? Karena Anda diberikan kebebasan oleh orangtua atau abang Anda untuk berbuat apa saja asalkan tidak melebihi jam 10 malam. Anda diberikan kebebasan oleh orangtua Anda untuk memilih pekerjaan apa saja, asalkan gajinya besar dan tidak memalukan. Anda diberikan kebebasan untuk memilih teman-teman Anda, asalkan dari keluarga baik-baik, terpandang dan berpendidikan, dan seterusnya. Intinya Anda diberikan kebebasan yang bersyarat.
Lalu, apa tanggapan Anda?
Subscribe to:
Posts (Atom)