Betapa bodohnya dirimu jika kamu
hanya mau didengar, tanpa mendengar orang lain. Tapi perangaimu telalu sulit
untuk dibantah. Memaksa orang untuk mendengar semua isi otak yang ingin kau
muntahkan.
Kau serupa orang bebal yang
konflik dengan tetangga karena kau menikahi istri kawannya. Tapi siapakah yang
bisa kau dengarkan saat ini?
Akh, aku terlalu berani untuk
memaksamu diam atau aku ingin muntah sepertimu. Diamkan segala nyalimu yang
hampir memberontak setiap pagi untuk bicara. Bicara banyak, itu yang
orang-orang bilang padaku tentangmu.
“Sebentar.” Itu yang selalu
menjadi dalihmu, tangan yang kau angkat, kepala yang kau pegang, lalu menghindar
sebentar, kembali lagi dan bicara. Kau terus menginterupsi setiap bibir yang
bergerak untuk bicara.